[FOTO ESAI] Berlindung dari Hantu Kekejaman Perang

Fotografer REUTERS

[FOTO ESAI] Berlindung dari Hantu Kekejaman Perang

Para pemberontak datang ke desa di malam hari dengan memegang parang. Bahkan Rachele-Ngabausi yang masih berusia dua tahun tidak bisa menghindar dari kekerasan mereka.

Hal terakhir yang dilihat oleh adik perempuan Mave Grace yang berusia 11 tahun sebelum jatuh pingsan adalah laki-laki dengan parangnya yang menebas perut ibu hamil dan membunuh bayi yang belum lahir.

Ketika Grace terbangun, dia dikelilingi oleh mayat. Tangan kirinya dipotong tepat di atas pergelangan tangan.

“Saat itu, di sekitar kami banyak mayat di mana-mana," kata Mave Grace. Dengan memakai gaun bermotif hijau, memegang lengan tangannya yang tanpa lengan, bahkan keropengnya masih belum sepenuhnya sembuh.

Desa asal Mave Grace, Tchee, terletak di wilayah Ituri timur, tempat perselisihan etnis antara para penggembala Hema dan petani Lendu telah mengorbankan banyak nyawa yang tak terhitung dan memaksa puluhan ribu orang melarikan diri mengungsi sejak perseturuan awal tahun 2018 silam.

Informasi dari daerah Ituri sulit didapat karena wilayah ini sangat terpencil, tetapi kekerasan di sana sebagian didorong oleh gangguan otoritas pemerintah yang telah memicu konflik di bagian lain negara itu juga.

Penolakan Presiden Joseph Kabila untuk meninggalkan kekuasaan pada akhir masa jabatannya pada tahun 2016 lalu, telah merusak legitimasi negara di mata banyak warga Kongo, dengan konsekuensinya yang mematikan, seperti pertikaian antar etnis tersebut.

UNHCR mengharapkan 200.000 pengungsi untuk mencapai Uganda dari Ituri tahun ini.

Orang-orang yang selamat lainnya seperti Grace dan keluarganya telah dipaksa mengungsi ke kamp-kamp di Kongo untuk mencari selamat.

Kamp yang ditinggali Mave Grace berada di lereng bukit di tepi kota Bunia, adalah lautan tenda-tenda biru dan putih terpal, di mana penduduk sementaranya bergerombol dari hujan lebat, dan hawa dingin. Banyak menghabiskan waktu sehari-hari mereka dengan berdoa bersama untuk mencari jalan keluar.

Tubuh dan wajah mereka menunjukkan apa yang tidak mereka inginkan. Adik Mave Grace, Rachele-Ngabausi, memiliki bekas luka diagonal yang membentang dari bawah pipi kirinya, melewati bagian dalam mata kirinya dan sampai ke dahinya.

Ayahnya, Nyine Richard, penuh dengan keputusasaan.

"Bahkan jika aku kembali ke desaku, aku tidak tahu bagaimana harus hidup lagi. Aku sudah kehilangan semua harapan." ujar Mave Grace.

Foto: REUTERS/Goran Tomasevic | Teks: REUTERS/Edward Mcallister

Apa Tanggapan anda ?



 

 

www.akurat.co

akurat youtube icon akurat gplus icon akurat twitter icon akurat facebook icon Connect